ibuku cantik. setidaknya menurutku begitu.

paling cantik, ketika dia baru saja bangun tidur siang. tapi ibu jarang-jarang tidur siang. sepanjang hari dia bekerja. kalaupun di rumah, ibu lebih memilih mengerjakan banyak hal daripada tidur. ibu menggosok lantai kamar mandi, membuatkanku origami, membaca buku, luluran, atau menemaniku nonton film.
secantik-cantiknya ibu, dia juga sering menjengkelkan lho. dia memarkir sepedaku dengan cara yang tidakĀ semestinya. sudah berkali-kali aku bilang, pakai standar bu, tapi tetap saja ibu tidak melakukannya. ibu juga mengadukan ke bunda sekolah bahwa aku masih minum susu dari botol. dengan bibirnya yang berpoles gincu, ibu selalu menciumku di depan sekolah. weks, ibu bikin aku malu!
ibu selalu mau segala sesuatu dikerjakan dengan cepat. kamu terlambat, kamu terlambat, begitu selalu dia bilang. orang yang tidak pernah tepat waktu, susah untuk maju. ih, ibu benar-benar cerewet!
anak mandiri harus membereskan mainan dan buku-bukunya sendiri, katanya dilain waktu. tapi aku punya alasan lain. buku dan mainan itu ‘kan ibu yang belikan, semestinya ibu juga bantu aku membereskannya. adil kan bu?
aku punya 10 permintaan, 8 diantaranya pasti dikabulkan ibu. dia ‘kan suka sakit kepala kalau aku merengek-rengek. makanya daripada aku merengek, ibu memilih mengabulkan permintaanku. hahahaha… kalau sudah begini, ibu tambah cantik!
kalau tidak lelah, ibu membacakan aku cerita. ibu satu paragraf, aku paragraf berikutnya. bergantian. setelah itu kami berdoa. hari ini ibu yang pimpin doa. besok aku. biasanya, aku minta dipeluk ibu. hangat sekali. ibu juga selalu tidur dalam keadaan wangi. jadinya aku selalu nyaman.

ibu selalu bangun lebih pagi dari aku. dia melakukan persiapannya diam-diam. khawatir membangunkan aku. ya, sebenarnya aku lebih senang ibu di rumah. main dengan ibu lebih menyenangkan dibandingkan dengan teteh. cuma ibu yang mau merangkak, lompat-lompatan, dan umpet-umpetan dengan aku.
suatu pagi aku memergoki ibu mau berangkat kerja. hayo, ibu mau kemana, kataku. mau kerja sayang, jawab ibu. gak usah bu, aku mulai merengek. kalau ibu tidak kerja, tidak ada uang untuk beli susu, begitu selalu alasan ibu. rara tidak usah minum susu deh, balasku. boleh, jawab ibu, tapi ibu ‘kan harus bayar uang sekolah kamu, beli buku, mainan, beli jeruk, sayur, bla bla bla… gak ngerti, pokoknya aku mau ibu di rumah saja.
kalau aku marah, aku pasti mengancam akan mengganti ibu dengan orang lain. mau diganti dengan ibu siapa? ibu kambing? tanya ibu sambil mengejek. dengan ibu tante, jawabku sekenanya. tante siapa, tanya ibu lagi. tante siapa saja, nanti rara tinggal milih, jawab ayah.
meski rara suka marah sama ibu, tapi rara paling sayang sama ibu.
sampai di monas, kami langsung masuk antrian untuk naik ke puncak. orang-orang sudah berdiri mengular. uh, aku bosan. ibu mengajak ku untuk duduk di lantai, sementara teteh menunggui antrian. ibu memotretku berkali-kali. aku suka bingung, kenapa sih ibu suka sekali menjadikan aku objek fotonya? jeprat! jepret! jeprat! jepret!
puncak. lift-nya cuma satu, itupun kecil. cuma muat untuk 11 orang dewasa. puncak monas memenuhi janjinya. aku bisa melihat jakarta. ada stasiun gambir dan juanda dari atas. ibu juga menjelaskan sejumlah gedung-gedung yang penting dan bersejarah. dalam dua puluh menit saja aku sudah bosan. mau turun, antri lagi…cape deh!
kami singgah di kawasan cawan. soalnya teteh mau foto dengan latar belakang mesjid istiqlal. teteh norak!
menjadi lebih besar dari monas. teteh adalah korban pertama. geser sana! agak ke kiri! tangannya ke atas! ke atas dikit lagi! senyum dong! teteh ketawa-ketiwi. neng malu bu, katanya. kalau malu makanya cepat bergaya, lagian panas nih, balas ibu. teteh makin cekikikan. malu bu, banyak orang, kata teteh lagi. ih, apa-apaan sih dua orang ini! sesi foto di bawah terik matahari ini memakan waktu setengah jam. fiuh!

