ibu

February 16, 2009 - Leave a Response

ibuku cantik. setidaknya menurutku begitu.

rara-dan-ibu-di-medan

paling cantik, ketika dia baru saja bangun tidur siang. tapi ibu jarang-jarang tidur siang. sepanjang hari dia bekerja. kalaupun di rumah, ibu lebih memilih mengerjakan banyak hal daripada tidur. ibu menggosok lantai kamar mandi, membuatkanku origami, membaca buku, luluran, atau menemaniku nonton film.

secantik-cantiknya ibu, dia juga sering menjengkelkan lho. dia memarkir sepedaku dengan cara yang tidakĀ  semestinya. sudah berkali-kali aku bilang, pakai standar bu, tapi tetap saja ibu tidak melakukannya. ibu juga mengadukan ke bunda sekolah bahwa aku masih minum susu dari botol. dengan bibirnya yang berpoles gincu, ibu selalu menciumku di depan sekolah. weks, ibu bikin aku malu!

ibu selalu mau segala sesuatu dikerjakan dengan cepat. kamu terlambat, kamu terlambat, begitu selalu dia bilang. orang yang tidak pernah tepat waktu, susah untuk maju. ih, ibu benar-benar cerewet!

anak mandiri harus membereskan mainan dan buku-bukunya sendiri, katanya dilain waktu. tapi aku punya alasan lain. buku dan mainan itu ‘kan ibu yang belikan, semestinya ibu juga bantu aku membereskannya. adil kan bu?

aku punya 10 permintaan, 8 diantaranya pasti dikabulkan ibu. dia ‘kan suka sakit kepala kalau aku merengek-rengek. makanya daripada aku merengek, ibu memilih mengabulkan permintaanku. hahahaha… kalau sudah begini, ibu tambah cantik!

kalau tidak lelah, ibu membacakan aku cerita. ibu satu paragraf, aku paragraf berikutnya. bergantian. setelah itu kami berdoa. hari ini ibu yang pimpin doa. besok aku. biasanya, aku minta dipeluk ibu. hangat sekali. ibu juga selalu tidur dalam keadaan wangi. jadinya aku selalu nyaman.

di-rumah-dongeng

ibu selalu bangun lebih pagi dari aku. dia melakukan persiapannya diam-diam. khawatir membangunkan aku. ya, sebenarnya aku lebih senang ibu di rumah. main dengan ibu lebih menyenangkan dibandingkan dengan teteh. cuma ibu yang mau merangkak, lompat-lompatan, dan umpet-umpetan dengan aku.

suatu pagi aku memergoki ibu mau berangkat kerja. hayo, ibu mau kemana, kataku. mau kerja sayang, jawab ibu. gak usah bu, aku mulai merengek. kalau ibu tidak kerja, tidak ada uang untuk beli susu, begitu selalu alasan ibu. rara tidak usah minum susu deh, balasku. boleh, jawab ibu, tapi ibu ‘kan harus bayar uang sekolah kamu, beli buku, mainan, beli jeruk, sayur, bla bla bla… gak ngerti, pokoknya aku mau ibu di rumah saja.

kalau aku marah, aku pasti mengancam akan mengganti ibu dengan orang lain. mau diganti dengan ibu siapa? ibu kambing? tanya ibu sambil mengejek. dengan ibu tante, jawabku sekenanya. tante siapa, tanya ibu lagi. tante siapa saja, nanti rara tinggal milih, jawab ayah.

meski rara suka marah sama ibu, tapi rara paling sayang sama ibu.

Advertisements

ke Monas? Sudah!

February 12, 2009 - Leave a Response

ibu memberiku hadiah. jika aku dapat 5 stiker pujian dalam minggu ketiga, ibu memberi aku hadiah petualangan. bulan ini hadiahnya ke monas. ini adalah kunjungan pertamaku ke Monas.

selama 3 tahun tinggal di depok, belum pernah sekalipun aku ke Monas. kalau ibu mengajakku ke kantornya di daerah Mangga Dua, aku bisa melihat Monas dari kereta. tinggi sekali.

pernah juga aku melihatnya lebih dekat lagi. dari stasiun gambir. wuih, sampai silau mataku melihat puncaknya.

kami-aku, ibu, dan teteh naik kereta ekspres dari stasiun depok baru. turun di stasiun gambir. dari gambir ibu dan teteh memutuskan untuk jalan kaki saja ke Monas. tapi bapak tukang bajaj sudah melambai-lambai ke arahku. wah, aku pingin naik bajaj saja. eits, ibu melotot ke arahku. aku makin kencang merengeknya. ‘kan kita jarang-jarang bu naik bajaj. di depok ‘kan tidak ada bajaj, kataku. akhirnya ibu mengalah. sampai di monas, ibu kembali mengomel. naik bajaj tidak sampai lima menit, tapi harus bayar delapan ribu. nanti pulangnya jalan kaki, kata ibu. beres, bu! tidak masalah.

rara-bosan-mengantrisampai di monas, kami langsung masuk antrian untuk naik ke puncak. orang-orang sudah berdiri mengular. uh, aku bosan. ibu mengajak ku untuk duduk di lantai, sementara teteh menunggui antrian. ibu memotretku berkali-kali. aku suka bingung, kenapa sih ibu suka sekali menjadikan aku objek fotonya? jeprat! jepret! jeprat! jepret!

setelah mengantri selama satu setengah jam, akhirnya kami naik juga kerara-lht-jakarta puncak. lift-nya cuma satu, itupun kecil. cuma muat untuk 11 orang dewasa. puncak monas memenuhi janjinya. aku bisa melihat jakarta. ada stasiun gambir dan juanda dari atas. ibu juga menjelaskan sejumlah gedung-gedung yang penting dan bersejarah. dalam dua puluh menit saja aku sudah bosan. mau turun, antri lagi…cape deh!

neng-dan-istiqlal1kami singgah di kawasan cawan. soalnya teteh mau foto dengan latar belakang mesjid istiqlal. teteh norak!

sekeliling monas ada tembok-tembok dengan relief dan patung-patung. ada patung gajah mada, arjuna, dan entah siapa lagi. ibu suka aku tanya-tanya, jadi aku tanya saja sekenanya. tapi ya gitu deh, aku sering lupa lagi.

di halaman monas, ibu mulai dengan ide gilanya lagi. membuat foto kitarara-dan-monas menjadi lebih besar dari monas. teteh adalah korban pertama. geser sana! agak ke kiri! tangannya ke atas! ke atas dikit lagi! senyum dong! teteh ketawa-ketiwi. neng malu bu, katanya. kalau malu makanya cepat bergaya, lagian panas nih, balas ibu. teteh makin cekikikan. malu bu, banyak orang, kata teteh lagi. ih, apa-apaan sih dua orang ini! sesi foto di bawah terik matahari ini memakan waktu setengah jam. fiuh!

rara-dan-patung

ibu dan teteh menepati janjinya. kita berjalan kaki menuju gambir. ibu memang konsistena tau pelit sih? meski gambir kelihatan dekat di mata, tapi ternyata capek di kaki. aku kan masih lima tahun, masak sih ibu tega menyuruh aku jalan kaki monas-gambir. enggak kan ya bu? aku digendong kan ya bu?memanah1

ps: sekarang kalau ada yang tanya: Rara sudah pernah ke Monas? jawabnya: sudah!

hi Rara!

February 9, 2009 - Leave a Response

nama lengkapku, raynerius raquel raditya. sudahlah, jangan terlalu repot mengejanya. panggil saja ‘rara’.

img_0721-copy

ibu kadang memanggilku adek, kadang abang. aku masih anak tunggal, aku si sulung sekaligus si bungsu. lain waktu ibu memanggil aku ‘ndut. ah, pokoknya selalu seenaknya ibu saja. kalau lagi marah ibu biasanya memanggil aku RARAAAAAAAA!!! semakin dia marah, semakin banyak A-nya.

ayah punya panggilan sendiri. ramon alias rara monster. kata dia, sewaktu kecil tingkahku seperti monster. selalu mengacak-acak. rak buku. rak sepatu. tumpukan pakaian. hingga boks tempat aku tidur. ayah masih punya satu panggilan lagi. “kongking”. panggilan yang satu ini bikin kupingku gatal. dari mana pula asal kata kongking ini?

jangan tiru ayah dan ibuku ya. panggil saja aku rara.

Hello world!

February 9, 2009 - Leave a Response

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!